Jakarta, 17 September 2025. Data Central Media 9 – Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menegaskan pentingnya negara memberikan ruang khusus bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya. Hal itu disampaikan dalam acara Istighotsah, Burdah, dan Ngaji Pancasila Nusantara di kawasan Wisma Asri, Bekasi Utara, Minggu malam (16/9).
Pernyataan ini menanggapi wacana penyediaan tempat khusus demonstrasi di DPR RI. Menurut Gus Wal, gagasan yang disampaikan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai tersebut memiliki substansi positif meski menuai beragam tanggapan. Intinya, perlu ada kanal resmi agar aspirasi rakyat tersampaikan tanpa mengganggu ketertiban umum.
“Pemerintah seharusnya tidak hanya sekadar menyediakan ‘lahan demo’, tetapi juga ruang aspirasi dan layanan laporan rakyat yang terintegrasi dengan sistem pengawasan serta tindak lanjut yang jelas dan transparan. Rakyat tidak hanya butuh tempat untuk berteriak menyampaikan aspirasi, tetapi juga kepastian bahwa suara mereka didengar dan ditindaklanjuti,” tegas Gus Wal.
PNIB kemudian menyinggung pengalaman Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, yang membangun Taman Pandang Istana. Awalnya taman tersebut disediakan sebagai ruang aspirasi agar demonstrasi tidak mengganggu lalu lintas dan aktivitas masyarakat. Namun kemudian berkembang menjadi ruang seni, budaya, dan ekspresi rakyat. Konsep serupa juga diterapkan di berbagai negara seperti Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.
“Konsep Taman Pandang Istana sudah sangat tepat. Selain menyalurkan aspirasi, ada nilai edukasi, seni, dan kebudayaan di dalamnya. Inilah yang harus dicontoh oleh DPR, MPR, kementerian, maupun pemerintah daerah,” jelas Gus Wal.
Lebih lanjut, Gus Wal menekankan bahwa Indonesia perlu melakukan revolusi budaya demokrasi. Aspirasi rakyat harus ditempatkan dalam wadah yang sehat, kreatif, dan membangun. Dengan begitu, demokrasi tidak lagi identik dengan kerusuhan jalanan, melainkan menjadi gerakan sosial-budaya yang memperkuat serta melestarikan budaya Nusantara, sekaligus menangkal paham transnasional yang berpotensi memicu intoleransi dan anarkisme.
“PNIB mendorong agar ruang aspirasi hadir dari pemerintahan pusat hingga daerah. Dengan begitu, rakyat bisa bebas berekspresi tanpa harus turun ke jalan dengan risiko aksi anarkis. Yang paling penting, negara hadir bukan sebagai penghalang aspirasi, tetapi sebagai pendengar sekaligus pelayan rakyat,” pungkasnya.
Team








